Beda orang, pasti beda juga memaknai penambahan usia. Klo bagi saya, tambah usia = pemborosan... *tulisan geje* Terima kasih atas ucapannya baik di MP, Fesbuk, Twitter, SMS, Telp, imel, atau yang live atau lewat media lain yang terlupakan.. maaf telat balasnya karena kemarin saya bersemedi di luar kota......God Bless Us All..
Apa jadinya klo anak2 MP pada bergosip di Twitter? Tentunya sama saja isinya, saling menyampah dan menghujat satu sama lain, serta membicarakan hal-hal yang tidak bisa dibicarakan di MP, seperti apa contohnya? Seperti menghujat saya karena ikutan QN ala tobie ini hahaha.. (ini beneran curhat) Bukan itu yang mau saya bicarakan, ketika saya mulai memfollow twitter beberapa MPer, saya mulai memahami beberapa karakter mereka, ga memahami juga sih, Cuma cukup mengenal prilaku mereka aja. Kebanyakan mereka ternyata adalah anak2 baik (crossfinger), namun kebaikan mereka belum menyamai kebaikan saya. Eh, bukan itu juga yang mau saya bahas. Baiklah, jadi sebenernya dengan banyaknya Mper yang membuat akun di twitter membuat saya khawatir, kalau kejadian dua tahun yang lalu terulang, yakni ketika fesbuk mulai menggema di dunia, beberapa teman yang mulai menghilang dari dunia Multiply-eran, mereka lebih memilih menjadi fesbuker, tidak mau munafik, saya juga termasuk ke golongan itu awalnya, saya juga jadi tergila2 dengan fesbuk. Hanya saja, setelah setahun sibuk menuangkan “what’s on my mind” di fesbuk, saya merasa jenuh dan kembali ke MP. Selama vakum dari MP, saya sering mengintip, dan memang ternyata inbox sepi, mungkin karena memang kontak saya sedikit kali yah hahaha.. kontak MP saya yang lama, beberapa masih betah dengan fesbuk, sedangkan yang lian, yang juga sudah bosan dengan fesbuk seperti saya, beralih ke kompasiana. Hanya saya yang kembali ke MP, mungkin karena saya memang tergolong orang yang memiliki sifat yang setia (wink) Apakah dengan adanya memboomingnya twitter, kondisi serupa akan kembali terjadi? Ah, semoga tidak.. *berdoa khusyuk* Gambar nyolong dari lapak sebelah
Hahahaha.. ini gara2 postingan gue yang ini trus disaranin untuk ikutan QN, ntar lagi kesambar geledek atau apa, jadi langsung bikin deh pas disaranin itu.. Makanya postingan pertama kena diskualipanci, habis ga baca syarat dan ketentuannya... Dan jujur aja, sampe sekarang gue masih bingung kenapa ikutan QN ala tobie ini, karena syaratnya banyak euy.. Tadinya sempat maju mundur, tapi sudah nanggung, sekalian aja diselesain hihihi...Hehehe.. semakin banyak yang protes, semakin gue senang mbak hahaha.. *ditabok dari belakang*Dan bukannya klo pertemanan datar2 aja, kayak kurang bumbu gitu kan mbak? hahahaha
Penundaan is A Silent Killer, begitu kata Bong Chandra. Saya mendapati kalimat ini ketika tengah nonton Apa Kabar Indonesia Pagi, waktu itu Bong Chandra sedang menjadi pembicara di salah satu segmen yang hanya berdurasi 30 menit itu. Ketika masih kecil, saya selalu dimarahi oleh ayah atau ibu ketika menunda pekerjaan, memang saat itu saya bertugas memberi makan ayam dan bebek yang dipelihara di belakang rumah, plus menyiram tanaman di halaman rumah. Ketika jadwal makan ayam dan bebek atau jadwal menyiram kebun telah terlampui, dan saya masih belum melakukan tugas, kicauan ayah dan ibu akan bergema di seluruh penjuru rumah, kicauan yang tiada henti, bahkan sampai keesokan hari. Jadi, daripada mendengar kicauan mereka yang memusingkan kepala, lebih baik saya melakukan tugas tersebut tepat waktu. Itu adalah contoh kecil dimana saya memang tidak dibiasakan untuk menunda pekerjaan ketika berada di rumah, atau ketika saya masih muda. Memang kehidupan masa kecil hingga remaja nyaris tanpa penundaan, namun kondisi ini berubah ketika saya merantau dan hidup sendiri. Semuanya berubah 160 derajat aja, ga nyampe 180 derajat. Contoh paling gampang adalah sholat, saya paling sering menunda sholat. Ketika adzan subuh berkumandang saya memang terbangun, namun saya menunda hingga alarm berbunyi, dan alarm dipasang pukul 5.30, padahal apa salahnya sih sholat tepat waktu? yah, paling mengurangi jam tidur beberapa menit hahahahaa *istighfar* Bukan itu saja, tugas kuliah dan beberapa kegiatan lain sering saya tunda (kecuali kegiatan yang berhubungan dengan hura-hura). Padahal menunda hanyalah menambah waktu untuk menyiksa diri sendiri. Setidaknya Itu yang saya rasakan, semakin lama saya menunda suatu pekerjaan, maka semakin gelisah dan tidak tenang pikiran. seperti, ketika menunda menyelesaikan tugas kuliah, selama saya belum mengerjakan tugas, saya pasti deg2an dan tidak bisa menikmati suasana dengan tenang. Dan ketika saya menonton acara itu (AKI pagi), saya merasa mendapat tamparan entah dari siapa. Setiap kata per kata yang diucapkan oleh Bong Chandra bener2 menohok, dan mulai saat itu, saya berjanji untuk tidak lagi menunda pekerjaan. Memang, acara itu telah ditayangkan berbulan-bulan yang lalu, dan pada akhirnya janji hanyalah janji dan niat hanyalah niat, bagaimana kehidupan saya sekarang? Masih suka menunda? *menatap nanar skripsi yang belum dikerjakan*
Mencontek judul lagu beberapa penyanyi, memang wiken kemaren saya cukup sibuk bantuin kakak pindah di depok, ternyata pindahan anak kost itu cukup merepotkan, selama sembilan tahun di jakarta, saya hanya tiga kali pindah kost, karena saya memang malas kalau harus ngepak2 barang plus angkut sana-sini hahaha... Ok, semua orang pasti punya masalah yang bikin down, blue, sad atau apalah itu namanya, begitu pula saya. Nah, dalam menyikapi kesedihan ini, beda orang beda pula cara menyikapinya, ada yang cuek, tapi tidak sedikit pula yang menikmatinya. Kalau saya? Mungkin termasuk gabungan kali yak wakakakakaka... Saya merasa heran sama mereka yang terlalu menikmati kesedihan, heran aja, karena kok mau-maunya bermuram durjana terus-terusan, kalau sehari dua hari atau sebulan dua bulan sih masih oke, tapi klo dah nyampe tahunan? Terserah juga sih yak hahahaha. Tapi, hey.. kalau mau menikmati kesedihan yang udah bertahun itu, mbok ya dinikmati sendiri aja ga usah dibagi lewat jejaring sosial, makanya beberapa orang yang status fesbuknya lebay to the max seperti itu langsung saya hide, karena membawa tidak ada pengaruh positif yang diberikan :P Entahlah, saya tidak begitu menyukai orang yang terlalu larut dalam kesedihan, ok ada saatnya memang kita bisa menikmati kesedihan, tapi ga setiap saat bukan? Kenapa ga move on, memikirkan hal lain yang lebih bermanfaat bagi masa depan, atau beres2 rumah buat melupakan kesedihan, yah setidaknya dimulai dari senyum, kan ada tuh lagu yang bilang gini “smile though your heart is aching bla bla bla”. Ntar lama2 juga bakalan ketemu “aha moment”-nya kalau ada niat dari kita untuk keluar dari kesedihan. Ga cuma itu aja, moving on bisa berarti berubah menjadi orang yang lebih baik. Terutama saya nih, yang hobinya menunda, ngaret dan tidur setelah subuh, padahal sudah dari kapan tau saya berniat untuk menghentikan sifat buruk itu, tapi berubah jadi orang baik itu sangat susah (IMO lho), sampe sekarang janji awal tahun ini masih sering terjadi, bukan sering sih, tapi sudah jadi kebiasaan. Dan sekarang saya baru menyadari dampak negatif dari perilaku buruk itu, contohnya saya ketinggalan jauh dari teman-teman dalam progress mengerjakan skripsi.. *gigit mouse* So it’s time to move on!!! Smangadssssssssssss *mengepalkan tangan*
Moving On Is Like A Bitter Vegeetable, It Doesn't Taste Good, But It's Good For You -Unknown
Mencontek judul lagu beberapa penyanyi, memang wiken kemaren saya cukup sibuk bantuin kakak pindah di depok, ternyata pindahan anak kost itu cukup merepotkan, selama sembilan tahun di jakarta, saya hanya tiga kali pindah kost, karena saya memang malas kalau harus ngepak2 barang plus angkut sana-sini hahaha... Ok, semua orang pasti punya masalah yang bikin down, blue, sad atau apalah itu namanya, begitu pula saya. Nah, dalam menyikapi kesedihan ini, beda orang beda pula cara menyikapinya, ada yang cuek, tapi tidak sedikit pula yang menikmatinya. Kalau saya? Mungkin termasuk gabungan kali yak wakakakakaka... Saya merasa heran sama mereka yang terlalu menikmati kesedihan, heran aja, karena kok mau-maunya bermuram durjana terus-terusan, kalau sehari dua hari atau sebulan dua bulan sih masih oke, tapi klo dah nyampe tahunan? Terserah juga sih yak hahahaha. Tapi, hey.. kalau mau menikmati kesedihan yang udah bertahun itu, mbok ya dinikmati sendiri aja ga usah dibagi lewat jejaring sosial, makanya beberapa orang yang status fesbuknya lebay to the max seperti itu langsung saya hide, karena membawa tidak ada pengaruh positif yang diberikan :P Entahlah, saya tidak begitu menyukai orang yang terlalu larut dalam kesedihan, ok ada saatnya memang kita bisa menikmati kesedihan, tapi ga setiap saat bukan? Kenapa ga move on, memikirkan hal lain yang lebih bermanfaat bagi masa depan, atau beres2 rumah buat melupakan kesedihan, yah setidaknya dimulai dari senyum, kan ada tuh lagu yang bilang gini “smile though your heart is aching bla bla bla”. Ntar lama2 juga bakalan ketemu “aha moment”-nya kalau ada niat dari kita untuk keluar dari kesedihan. Ga cuma itu aja, moving on bisa berarti berubah menjadi orang yang lebih baik. Terutama saya nih, yang hobinya menunda, ngaret dan tidur setelah subuh, padahal sudah dari kapan tau saya berniat untuk menghentikan sifat buruk itu, tapi berubah jadi orang baik itu sangat susah (IMO lho), sampe sekarang janji awal tahun ini masih sering terjadi, bukan sering sih, tapi sudah jadi kebiasaan. Dan sekarang saya baru menyadari dampak negatif dari perilaku buruk itu, contohnya saya ketinggalan jauh dari teman-teman dalam progress mengerjakan skripsi.. *gigit mouse* So it’s time to move on!!! Smangadssssssssssss *mengepalkan tangan*
what happen..aya naon kitu muse...???
BalasHapuswazz up,muse? hayo sini cerita.
BalasHapus*ngasih gombal bekas lap meja ke muse*
BalasHapusmuse gak kelilipan kan??
sini
BalasHapus*sodorin bahu
Siapa yg nangis ko? :D
BalasHapusCep.. Cep.. Napa sh muse? Cerita dong..
BalasHapusCep.. Cep.. Napa sh muse? Cerita dong..
BalasHapusada apakah?
BalasHapusmosok gak jadi ketemu nana ajah nangis sich :p
BalasHapusit's okay to be not okay :)
BalasHapusBeda orang, pasti beda juga memaknai penambahan usia. Klo bagi saya, tambah usia = pemborosan... *tulisan geje* Terima kasih atas ucapannya baik di MP, Fesbuk, Twitter, SMS, Telp, imel, atau yang live atau lewat media lain yang terlupakan.. maaf telat balasnya karena kemarin saya bersemedi di luar kota......God Bless Us All..
BalasHapusApa jadinya klo anak2 MP pada bergosip di Twitter? Tentunya sama saja isinya, saling menyampah dan menghujat satu sama lain, serta membicarakan hal-hal yang tidak bisa dibicarakan di MP, seperti apa contohnya? Seperti menghujat saya karena ikutan QN ala tobie ini hahaha.. (ini beneran curhat) Bukan itu yang mau saya bicarakan, ketika saya mulai memfollow twitter beberapa MPer, saya mulai memahami beberapa karakter mereka, ga memahami juga sih, Cuma cukup mengenal prilaku mereka aja. Kebanyakan mereka ternyata adalah anak2 baik (crossfinger), namun kebaikan mereka belum menyamai kebaikan saya. Eh, bukan itu juga yang mau saya bahas. Baiklah, jadi sebenernya dengan banyaknya Mper yang membuat akun di twitter membuat saya khawatir, kalau kejadian dua tahun yang lalu terulang, yakni ketika fesbuk mulai menggema di dunia, beberapa teman yang mulai menghilang dari dunia Multiply-eran, mereka lebih memilih menjadi fesbuker, tidak mau munafik, saya juga termasuk ke golongan itu awalnya, saya juga jadi tergila2 dengan fesbuk. Hanya saja, setelah setahun sibuk menuangkan “what’s on my mind” di fesbuk, saya merasa jenuh dan kembali ke MP. Selama vakum dari MP, saya sering mengintip, dan memang ternyata inbox sepi, mungkin karena memang kontak saya sedikit kali yah hahaha.. kontak MP saya yang lama, beberapa masih betah dengan fesbuk, sedangkan yang lian, yang juga sudah bosan dengan fesbuk seperti saya, beralih ke kompasiana. Hanya saya yang kembali ke MP, mungkin karena saya memang tergolong orang yang memiliki sifat yang setia (wink) Apakah dengan adanya memboomingnya twitter, kondisi serupa akan kembali terjadi? Ah, semoga tidak.. *berdoa khusyuk*
BalasHapusGambar nyolong dari lapak sebelah
Hahahaha.. ini gara2 postingan gue yang ini trus disaranin untuk ikutan QN, ntar lagi kesambar geledek atau apa, jadi langsung bikin deh pas disaranin itu.. Makanya postingan pertama kena diskualipanci, habis ga baca syarat dan ketentuannya...
BalasHapusDan jujur aja, sampe sekarang gue masih bingung kenapa ikutan QN ala tobie ini, karena syaratnya banyak euy.. Tadinya sempat maju mundur, tapi sudah nanggung, sekalian aja diselesain hihihi...Hehehe.. semakin banyak yang protes, semakin gue senang mbak hahaha.. *ditabok dari belakang*Dan bukannya klo pertemanan datar2 aja, kayak kurang bumbu gitu kan mbak? hahahaha
Penundaan is A Silent Killer, begitu kata Bong Chandra. Saya mendapati kalimat ini ketika tengah nonton Apa Kabar Indonesia Pagi, waktu itu Bong Chandra sedang menjadi pembicara di salah satu segmen yang hanya berdurasi 30 menit itu. Ketika masih kecil, saya selalu dimarahi oleh ayah atau ibu ketika menunda pekerjaan, memang saat itu saya bertugas memberi makan ayam dan bebek yang dipelihara di belakang rumah, plus menyiram tanaman di halaman rumah. Ketika jadwal makan ayam dan bebek atau jadwal menyiram kebun telah terlampui, dan saya masih belum melakukan tugas, kicauan ayah dan ibu akan bergema di seluruh penjuru rumah, kicauan yang tiada henti, bahkan sampai keesokan hari. Jadi, daripada mendengar kicauan mereka yang memusingkan kepala, lebih baik saya melakukan tugas tersebut tepat waktu. Itu adalah contoh kecil dimana saya memang tidak dibiasakan untuk menunda pekerjaan ketika berada di rumah, atau ketika saya masih muda. Memang kehidupan masa kecil hingga remaja nyaris tanpa penundaan, namun kondisi ini berubah ketika saya merantau dan hidup sendiri. Semuanya berubah 160 derajat aja, ga nyampe 180 derajat. Contoh paling gampang adalah sholat, saya paling sering menunda sholat. Ketika adzan subuh berkumandang saya memang terbangun, namun saya menunda hingga alarm berbunyi, dan alarm dipasang pukul 5.30, padahal apa salahnya sih sholat tepat waktu? yah, paling mengurangi jam tidur beberapa menit hahahahaa *istighfar* Bukan itu saja, tugas kuliah dan beberapa kegiatan lain sering saya tunda (kecuali kegiatan yang berhubungan dengan hura-hura). Padahal menunda hanyalah menambah waktu untuk menyiksa diri sendiri. Setidaknya Itu yang saya rasakan, semakin lama saya menunda suatu pekerjaan, maka semakin gelisah dan tidak tenang pikiran. seperti, ketika menunda menyelesaikan tugas kuliah, selama saya belum mengerjakan tugas, saya pasti deg2an dan tidak bisa menikmati suasana dengan tenang. Dan ketika saya menonton acara itu (AKI pagi), saya merasa mendapat tamparan entah dari siapa. Setiap kata per kata yang diucapkan oleh Bong Chandra bener2 menohok, dan mulai saat itu, saya berjanji untuk tidak lagi menunda pekerjaan. Memang, acara itu telah ditayangkan berbulan-bulan yang lalu, dan pada akhirnya janji hanyalah janji dan niat hanyalah niat, bagaimana kehidupan saya sekarang? Masih suka menunda? *menatap nanar skripsi yang belum dikerjakan*
BalasHapusMencontek judul lagu beberapa penyanyi, memang wiken kemaren saya cukup sibuk bantuin kakak pindah di depok, ternyata pindahan anak kost itu cukup merepotkan, selama sembilan tahun di jakarta, saya hanya tiga kali pindah kost, karena saya memang malas kalau harus ngepak2 barang plus angkut sana-sini hahaha... Ok, semua orang pasti punya masalah yang bikin down, blue, sad atau apalah itu namanya, begitu pula saya. Nah, dalam menyikapi kesedihan ini, beda orang beda pula cara menyikapinya, ada yang cuek, tapi tidak sedikit pula yang menikmatinya. Kalau saya? Mungkin termasuk gabungan kali yak wakakakakaka... Saya merasa heran sama mereka yang terlalu menikmati kesedihan, heran aja, karena kok mau-maunya bermuram durjana terus-terusan, kalau sehari dua hari atau sebulan dua bulan sih masih oke, tapi klo dah nyampe tahunan? Terserah juga sih yak hahahaha. Tapi, hey.. kalau mau menikmati kesedihan yang udah bertahun itu, mbok ya dinikmati sendiri aja ga usah dibagi lewat jejaring sosial, makanya beberapa orang yang status fesbuknya lebay to the max seperti itu langsung saya hide, karena membawa tidak ada pengaruh positif yang diberikan :P Entahlah, saya tidak begitu menyukai orang yang terlalu larut dalam kesedihan, ok ada saatnya memang kita bisa menikmati kesedihan, tapi ga setiap saat bukan? Kenapa ga move on, memikirkan hal lain yang lebih bermanfaat bagi masa depan, atau beres2 rumah buat melupakan kesedihan, yah setidaknya dimulai dari senyum, kan ada tuh lagu yang bilang gini “smile though your heart is aching bla bla bla”. Ntar lama2 juga bakalan ketemu “aha moment”-nya kalau ada niat dari kita untuk keluar dari kesedihan. Ga cuma itu aja, moving on bisa berarti berubah menjadi orang yang lebih baik. Terutama saya nih, yang hobinya menunda, ngaret dan tidur setelah subuh, padahal sudah dari kapan tau saya berniat untuk menghentikan sifat buruk itu, tapi berubah jadi orang baik itu sangat susah (IMO lho), sampe sekarang janji awal tahun ini masih sering terjadi, bukan sering sih, tapi sudah jadi kebiasaan. Dan sekarang saya baru menyadari dampak negatif dari perilaku buruk itu, contohnya saya ketinggalan jauh dari teman-teman dalam progress mengerjakan skripsi.. *gigit mouse*
BalasHapusSo it’s time to move on!!! Smangadssssssssssss *mengepalkan tangan*
Moving On Is Like A Bitter Vegeetable, It Doesn't Taste Good, But It's Good For You -Unknown
BalasHapusMencontek judul lagu beberapa penyanyi, memang wiken kemaren saya cukup sibuk bantuin kakak pindah di depok, ternyata pindahan anak kost itu cukup merepotkan, selama sembilan tahun di jakarta, saya hanya tiga kali pindah kost, karena saya memang malas kalau harus ngepak2 barang plus angkut sana-sini hahaha... Ok, semua orang pasti punya masalah yang bikin down, blue, sad atau apalah itu namanya, begitu pula saya. Nah, dalam menyikapi kesedihan ini, beda orang beda pula cara menyikapinya, ada yang cuek, tapi tidak sedikit pula yang menikmatinya. Kalau saya? Mungkin termasuk gabungan kali yak wakakakakaka... Saya merasa heran sama mereka yang terlalu menikmati kesedihan, heran aja, karena kok mau-maunya bermuram durjana terus-terusan, kalau sehari dua hari atau sebulan dua bulan sih masih oke, tapi klo dah nyampe tahunan? Terserah juga sih yak hahahaha. Tapi, hey.. kalau mau menikmati kesedihan yang udah bertahun itu, mbok ya dinikmati sendiri aja ga usah dibagi lewat jejaring sosial, makanya beberapa orang yang status fesbuknya lebay to the max seperti itu langsung saya hide, karena membawa tidak ada pengaruh positif yang diberikan :P Entahlah, saya tidak begitu menyukai orang yang terlalu larut dalam kesedihan, ok ada saatnya memang kita bisa menikmati kesedihan, tapi ga setiap saat bukan? Kenapa ga move on, memikirkan hal lain yang lebih bermanfaat bagi masa depan, atau beres2 rumah buat melupakan kesedihan, yah setidaknya dimulai dari senyum, kan ada tuh lagu yang bilang gini “smile though your heart is aching bla bla bla”. Ntar lama2 juga bakalan ketemu “aha moment”-nya kalau ada niat dari kita untuk keluar dari kesedihan. Ga cuma itu aja, moving on bisa berarti berubah menjadi orang yang lebih baik. Terutama saya nih, yang hobinya menunda, ngaret dan tidur setelah subuh, padahal sudah dari kapan tau saya berniat untuk menghentikan sifat buruk itu, tapi berubah jadi orang baik itu sangat susah (IMO lho), sampe sekarang janji awal tahun ini masih sering terjadi, bukan sering sih, tapi sudah jadi kebiasaan. Dan sekarang saya baru menyadari dampak negatif dari perilaku buruk itu, contohnya saya ketinggalan jauh dari teman-teman dalam progress mengerjakan skripsi.. *gigit mouse*
So it’s time to move on!!! Smangadssssssssssss *mengepalkan tangan*