Cuma mau menceritakan kejadian yang saya alami hari ini, karena menurut saya hal ini penting bangeet sehingga harus diceritakan kepada dunia, sebab semesta akan sangat rugi kalau tidak mengetahui kegiatan saya hari ini (backsound suara jangkrik).
Pagi ini saya terbangun lima belas menit sebelum jam 6, ga terbangun juga sih, tapi dibangunin karena si mbak melihat lampu kamar saya masih padam, alhasil setelah dua atau tiga kali ketukan di pintu kamar no. 1, saya terbangun juga dan merasakan sejuknya udara pagi ini. Langsunglah, kaki ini dengan sendirinya menuju kamar mandi dan mengambil wudhu untuk melaksanakan kewajiban pagi hari.
Masih merasa kelelahan karena kemarin sibuk muterin Blok M, saya memutuskan untuk kembali ke tempat tidur sambil nonton infotainment, yang tumben sudah tidak memberitakan musibah yang dialami mbak angie, tanpa terasa, karena sudah menemukan apa yang dinamakan “PeWe”, saya kembali tertidur sampe jam 8, dan baru sadar kalau saya ada janji jam segitu sama yudha untuk ke kantor pos, mengirim SPT Tahunan ke KPP tempat saya terdaftar.
Satu jam kemudian, saya tiba di tempat teman, dan kita langsung ke kantor pos (sempat ragu sih ke kantor pos atau drop box, tapi karena satu dan lain hal kita memutuskan untuk mengiran via pos tercatat), berpisah disana karena doi kudu ke serang ngeliatin istrinya yang tugas disana. Sampe kost saya Cuma baca buku sampe sore, maklum hari ini saya meutuskan untuk sejenak mengistirahatkan diri dari kegiatan menyusun skripsi, karena kemarin dosen sudah meminta diserahkan bab 1-3, jadi sedikit memberikan relaksasi ke diri sendiri bukan merupakan suatu kesalahan.
Kangen sama emak, jadi saya miskol beliau, tak lama berselang saya ditelepon balik (seperti yang diharapkan hehe), dan kitapun ngobrol puas kurang lebih setengah jam setelah gantian dengan babe. Oh ya, siangnya saya sempat belanja makanan di midimarket terdekat, sekedar beli quaker, chiki2an, wafer2an, dan amunisi lainnya buat di kost, dan malamnya, seperti biasa saya habiskan di lapangan bulu tangkis.
Jam 9 malam saya tiba di lapangan, baru tiga teman yang datang, tepak tepok bulu angsa (btw bulu angsa atau bulu bebek atau bulu ayam sih?), pokoknya puas tepak tepok, satu jam kemudian lapangan sudah mulai sepi, masih tersisa empat lapangan yang berisi orang, permainan terus berlanjut sampai tiba tiba..............
Di lapangan sebelah, seseorang jatuh tersungkur, awalnya kita mengira dia hanya terjatuh dan cedera biasa, permainan sempat terhenti, dan kita fokus ke orang itu, di dua lapangan lainnya orang-orang masih sibuk tepak tepok bulu angsa, sampai kita sadari bahwa ada sesuatu yang janggal dengan orang itu, matanya mulai membesar, dan badannya mulai kejang. Lalu mata semua orang langsung tertuju kepada si orang yang terjatuh itu, dan satu per satu mulai mendekat, ternyata dia bukan tersungkur, tetapi seperti terkena suatu serangan penyakit tertentu.
Kejang yang dialami tak kunjung reda, temannya yang memang sudah berkeringat, tambah deras keluar keringatnya akibat kejadian itu. Kita yang juga bingung hanya bisa terpana, sedikit keluar busa putih dari mulutnya, tak lama berselang kurang lebih 10 menit setelah diurut, dielus dan dipijit dan didoakan oleh kita semua, si orang tersebut siuman, dan sudah bisa berdiri walaupun tertatih (thanks God). Kitapun melanjutkan permainan, tak lama berselang mereka pulang, padahal belum ada satu jam lho mereka main badminton.
Hmmmm... kejadian yang sebenarnya bukan kejadian luar biasa, tapi cukup membuat shock bagi saya. Sampai pulang kita menyimpulkan bahwa dia terkena serangan epilepsi, nah dalam kondisi seperti ini, apa yang seharusnya kita lakukan? Diam sajakah sambil berdoa? Atau melakukan pertolongan pertama? Kalau iya, pertolongan seperti apakah yang seharusnya diberikan? Toh, hal seperti ini sangat mungkin terjadi di tempat lain.
Selama menulis ini saya hanya mendengar satu buah lagu dari The Velvet Underground – Pale blue eyes (Penting!!)