Jumat, 21 Maret 2008

Sebuah Catatan Kecil dari Ujung Genteng (Powered By Teh Botol)

UJUNG GENTENG ADVENTURE

Jakarta, 7 Maret 2008. Jumat pagi yang dingin tak menghalangi niatku tuk bangun pagi. Setelah mandi dan Shalat Subuh lalu makan nasi plus abon sapi sambil nyruput Indocafe Capucinno tanpa coklat langsung ku rapikan packing semalem setelah tertunda kemarin karena ngantuk banget. Jam masih menunjukkan 5.30 pagi, tapi semua persiapan dah OK jadi gaka da salahnya tidur-tiduran dulu, toh janji ama Agus juga jam 6.30 di UKI, ya lumayan lah 30 menit bisa buat tidur. Terlelap sebentar terdengarlah nada SMS, kubuka ternyata Agus Kesiangan, jadi ya udah deh tidur lagi aja. Jam 06.30 berangkat menuju UKI, perjalanan cukup lancar, sampai di UKI jam 06.50, menunggu Agus bareng Mas Hanif, sampai jam 07.00 Agus baru datang, setelah itu langsung ke UKI ujung, naik bus jurusan Bogor yang penuh abis, katanya sih busnya banyak disewa, ampe 62 bus, jadinya selain nunggu lama juga penuh pastinya.

Perjalanan menuju Bogor lancar banget, terutama karena masih pagi, setelah masuk terminal Baranang Siang Bogor jam 07.50, lalu sms Mbak Novi dkk yang ternyata masing di jalan, jadi ke toilet dulu aja. Dan tak lama Mbak Novi, Mbak Eva, Rotua n Nisa datang juga. Tinggal Muslim nih yang belum datang. Sambil terus telpon Muslim, kami nunggu di pos polisi di depan terminal, duduk-duduk sambil ngobrol-ngobrol, kenalan, sarapan dll sampai jam 9.00 Muslim belum nongol juga, makin gusar lah kami, belum lagi kami dah ditungguin bus yang mau ke Surade, kan gak enak juga ama penumpang yang lainnya. Akhirnya setelah bus mutar dan balik ke terminal lagi, Muslim baru datang. Kami berusaha untuk dapet bus itu karena bus berikutnya baru berangkat jam 11.30, apalagi kata pak kondektur perjalan ke sana sekitar 6 jam kalo gak macet, kalo macet ya lain lagi ceritanya.

Perjalanan menuju Surade menggunakan Minibus MGI, dan sepertinya inilah perusahaan bus satu-satunya yang melayani rute ini. Baru berangkat beberapa menit udah disambut kemacetan di pintu tol Ciawi sampai Pasar Ciawi. Perjalanan melalu Cibadak, Sukabumi, Cisaat, kemudian langsung ke Surade melewati jalur yang benar-benar extreme, tikungan tajam, tanjakan, turunan, kanan tebing dan kiri jurang, belum lagi jalan yang sempit dan kondisi jalan yang banyak lubang disana sini. Pemandangan di perjalanan cukup indah, dengan hamparan kebun nan komplit mulai dari kebun karet, kakau, kopi, teh, hamparan sawah dengan padinya yang tinggi-tinggi, tambang batu kapur di bukit-bukit karst yang bolong-bolong oleh bulldozer, dan tampak dari kejauhan Taman Nasional halimun Salak yang hijau oleh lebatnya hutan.

Setelah 5 jam perjalanan kami rehat di rumah makan Bey Bey, antri di kamar mandi, shalat dan makan, tapi sayang nasi dah habis, jadi gak kebagian makan deh. Karena perut mual maka perjalanan berikutnya aku memilih berdiri saja, daripada nanti jackpot malah repot. Setelah pertigaan Ciracap ternyata minyak rem bus bocor, jadi berhenti dulu di pos MGI sambil diganti selang remnya. Tadinya nunggu lama be te juga, akhirnya kami foto-foto aja di deket areal persawahan yang kalo diliat dari jauh tuh mirip banget ama yang ada di Tegalalang, Ubud. Oh iya, hamper lupa kalo naik MGI harus sabar ya, karena bus ini selalu diperiksa ditiap pos, dan setelah dihitung ternyata dari Bogor-Surade ada 7 pos, jadi otomatis harus di cek 7 kali juga.

Jam 16.10 bus sampai di Surade, karena angkot dah gak ada lagi dan menurut pak kondektur bus kalo naik ojek kesana mahal, sekitar 35 ribu, jadi mendingan ikut bus aja ke pool, lalu nyewa angkot dari sana, yang kebetulan si pemilik angkot rumahnya di depan pool MGI. Selain kami ber-8, ada juga Mbak Maya dan suaminya yang mau ke Ujung Genteng juga, yang akhirnya menambah tim kami jadi 10 orang. Setelah menyewa angkot kami langsung ke Ujung Genteng. Perjalanan dari Surade ke Ujung Genteng ditempuh kira-kira 1 jam 15 menit. Tadinya kami mau nginap di Pondok Hexa, tapi katanya dah penuh, jadi kami nginep di Mama’s Losmen, yang kebetulan kami dapat satu rumah yang cukup etnik, dinding dari bambu, dengan 5 bed, sofa, tapi sayang Cuma 1 kamar mandi, dengan harga 300rb semalam, cukup worthy lah.

Setelah ganti pakaian, kami langsung ke pantai, main-main di pantai pas lagi surut sambil menantikan sunset. Beruntung sore itu langit Cuma sedikit mendung, jadi sunset dapat terlihat jelas. Tampak rona indah di langit mulai berubah, dari biru cerah, lalu jingga, dan akhirnya lembayung samapi mentari tenggelap di bawah cakrawala. Silau keemasan airlaut tersaput sinar senja dan pantulan mentari di ufuk timur yang terkungkung mendung memancarkan cahaya ungu nan menawan. Sungguh suasana yang sangat mengagumkan. Setelah puas menikmati suasana senja, kami langsung kembali ke cottage buat antri mandi, sambil ngobrol, foto-foto, dan makan tetep ya . . .

Setelah mandi, langsung ke Restoran Hexa, pesan buat makan malam, yang ternyata harus pesen dulu 1 jam sebelumnya. Dengan makanan seafood tentunya, mulai dari ikan bakar, ikan goreng, udang, cumi, dan cap cay. Sambil menikmati makan malam yang asik, bareng temen-temen yang asik pula, ditambah suasana yang cukup ramai dengan orang-orang dari Explore Indonesia dan Club Fotografi.

Makan Malam kali ini Presented by Ms. Novi, maksih mbak Novi ya . . .

Perut kenyang, trus balik ke Cottage, gak gitu lama ojek yang dipesan buat nganter ke Pantai Penyu datang, kami langsung naik ojek masing-masing, rencana awalnya kami mau sewa 4 motor aja, tapi untung gak jadi karena ternyata selain medan yang dilalui cukup mengerikan, mulai dari hutan, semak, pantai, sungai kering, sampai jembatan pohon kelapa yang sempit. Dinginnya udara plus hujan gerimis tak membuat kami mundur, terus melaju ke pusat Penangkaran Penyu setelah perjalanan 4,5 km dari Mama’s.  Sehabis registrasi dan ngisi buku tamu kami langsung menuju pantai menunggu sang penyu mendarat untuk bertelur. Berlama-lama menunggu penyu tak kunjung tiba juga, ternyata kami baru sadar di pantai itu ada 3 rombongan selain kami, yang pasti di depan kami rombongan dari Finland, yang sebelah aku gak tau dari mana, karena ngomongnya aneh2 gitu, kayanya sih dari Xplore Indonesia dari Hexa kemaren. Aku juga baru ngeh, kenapa penyu suka bertelur disitu, karena pasir disana sangat lembut, bahkan kalo kita genggam, gak gitu lama sudah hilang dari genggaman.

Karena gak sabar nunggu dan udah letih dan ngantuk karena perjalanan yang ditempuh tadi siang, kami putuskan untuk balik saja. Sampai di Pusat Informasi ternyata ojeknya kurang 2, jadi harus nunggu dulu. Sembari nunggu kami nanya-nanya lah tentang penyu dll ama guide disana. Konon dulu sering ada panen raya penangkapan penyu, tapi sejak tahun 1995 sudah dilarang, trus abis itu penyu yang bertelur makin banyak, bahkan tahun 1997 pernah sampai 100 ekor penyu naik dalam semalem, tapi kalo pas musim gak bertelur gini paling yang naik 2 atau 3 penyu saja semalem. Di pos itu juga banyak tong-tong berisi telur-telur penyu yang lagi dieramkan di pasir yang disegel dan dikasih tanggal. Rata-rata telur itu akan menetas setelah 58-65 hari. Dari satu ekor penyu bisa menghasilkan telur sampai 100 butir, dari 100 butir itu 90 diantaranya yang menetas, tapi dari 90 itu yang akhirnya bertahan sampai dewasa sekitar 10 ekor saja.

Selain box-box berisi telur didalam pos juga terdapat banyak sekali tukik (anak penyu) yang baru menetas tapi belum dilepas ke laut. Tukik-tukik itu ditaruh di bak, dan gerakan mereka lincah banget. Tukik itu setelah berumur 1 minggu akan dilepas ke laut. Setelah dilepas, tukik itu akan berada di laut lepas sampai akhirnya akan balik lagi kesana 10-20 tahun lagi untuk bertelur.

Sampai di Cottage langsung tidur, karena paginya berencana bangun jam 4.00 buat liat sunrise di Pantai Sunrise, di pantai timur Ujung Genteng.

Sabtu, 8 Maret 2008. Jam masih menunjukkan angka 04.00 pagi, tapi alarm mulai bersahut-sahutan, mulai dari instrumental, ost smallvile, Madagascar de el el. Setelah keributan alarm berlalu, jam 04.15 sudah mulai bangun. Pertama kali kubuka mata yang kulihat adalah muslim, yang sharing bed ama aku, dan kemudian M’Eva sama Rotua yang masih enak tidur dibawah, dan M’Novi yang berkeluh kesah karena gak bisa tidur semalaman_ya iya lah, secara gitu tidur di sofa yang bergelombang. Makan makanan seadanya karena laper, trus shalat subuh, dan kami langsung berjalan menuju Pantai Timur, atau lebih kerennya disebut pantai sunrise.

Berjalanan di pagi buta dengan penerangan seadanya_bahkan tanpa penerangan sama sekali malahan. Kami berjalan menyusuri jalan di tepian pantai sejauh kira-kira 1,5 km. Sesekali kami melihat kerlip lampu mercusuar di ujung Tanjung Ujung Genteng, terkadang kami harus nyebur ke lumpu dan air di jalanan karena gaka da penerangan, tapi setelah sampai dekat dermaga, jalanan mulai beraspal sampai ke pasar ikan. Sampai di tepian pantai ternyata yang menunggu disana sudah banyak, mayoritas nelayan yang lagi mendarat dan para fotografer lengkap dengan tripodnya masing-masing.Karena sampai disana hari masih gelap diselingi gerimis, maka kami cuma makan-makan wafer dan duduk-duduk di perahu nelayan yang bersandar sambil ngobrol kesana sini.

Pantai Timur ini agak berbeda dengan keadaan di Pantai Barat (sunset) tempat kami menginap, di pantai ini airnya lebih keruh karena banyak sampah dari rumput laut yang terbawa ombak. Pasirnya bercampur tanah dan di pantai ini sekaligus merupakan dermaga bagi perahu-perahu nelayan. Disebelah selatan terdapat kawasan yang hijau_lebih tepatnya disebut hutan, sedangkan kawasan utara adalah perkampungan penduduk dan pasar ikan.

Setelah 30 menit menunggu akhirnya sang fajar mulai menampakkan mukanya, meski agak pucat karena tertutup mendung namun tetap memukau, sambil bergaya di depan kamera, kami lanjutkan berjalan menyusuri pantai menuju kearah selatan, kea rah tanjung ujung genteng yang masih cukup asri dengan hutannya yang lebat dan karang-karang di pantai yang terhampar. Pose Foto tak terhitung lagi jumlahnya, mulai dari pose lost, lasakar pelangi sampai siluet. Setelah puas menikmati sunrise dan suasana pagi di pantai, panggilan alam mulai mengajak kami tuk kembali pulang_laper maksudnya. Akhirnya kami mampir di rumah makan di dekat pelabuhan, sambil melihat suasana hiruk pikuk di pasar ikan kami memesan mie rebus plus teh manis anget.

Selesai makan kami langsung cari angkot buat nganter ke Curug Cikaso. Saat lagi asik2nya nego, muncullah pelangi di ufuk barat, tanpa basi-basi langsung deh foto-foto lagi. Kami Janjian ama Mbak Maya dan suaminya buat jemput ke Cottage, tapi ternyata malah papasan ama mereka di jalan, tapi karena mereka mau sarapan dulu jadi kami balik dulu, ‘coz ada yang mau ganti baju, dll (gak bisa disebutkan satu per satu). Semua beres langsung melunjur buat jemput Mbak Maya dan Suaminya, tapi karena di meeting point (pertigaan Ujung Genteng maksudnya) mereka belum dating, maka langsung deh para spesies baru Homo Sapiens Narsisisme langsung pada foto-foto. Agus, muslim, dan roro pada foto-foto di deket jalan ujung genteng, yang lain pada pasang pose di dermaga lama.

Setelah semua kumpul dilanjutkan perjalanan ke Curug Cikaso, kira-kira 28 km dari Ujung Genteng. Perjalanan yang cukup melelahkan tapi menyenangkan, dengan guyonan khas muslim yang capee deehhhh . . . tanpa terasa tibalah di Cikaso dan langsung turun ke sungai, ternyata cakep banget liat sungai yang lebaarr banget, dan kayanya sih dalem banget, trus nego lagi buat ke air terjun. Setelah deal dengan harga 70rb, akhirnya kami berangkat ke air turjun (curug) Cikaso, air sungai yang coklat keruh pas di pertigaan sungai berubah menjadi hijau kebiruan dan bening banget, lalu gak gitu lama menyusuri sungai itu _gak ada 10 menit deh kayanya sudah sampai di Curug itu, namanya Curug Luhur.

 

Woooowwww sungguh mengagumkan ciptaan Tuhan, tiga curug yang bersebelahan dengan air yang bening, dan air yang gak gitu dingin, jadi tetep oke lah buat mandi-mandi dan maianan air. Disini terjadi sedikit accident, mulai dari mbak eva yang kepleset (ironis jatuh, tapi ditanya aneh “kameranya gpp to mbak??, gludrak . .” .Waktu baru menunjukkan jam 10.30, padahal janji dijemput angkotnya jam 1.00, wah be te juga kalo lama-lama disana, akhirnya kami putuskan untuk nego ulang dengan “nahkoda”nya buat nganter ke Muara Cikaso, akhirnya deal denan harga 150ribu. Lalu lanjutlah kami menyusuri Sungai Cikaso menuju Muara, ternyata jauh banget, memakan waktu hamper 1 jam. Mulanya excited banget dengan pemandangan sekitar, tebing hijau, hutan, burung-burung liar, lading penduduk, rumah penduduk, dan sesekali kami berpapasan dengan perahu-perahu penduduk setempat yang menjadikan sungai itu sebagai “jalan” utama dan perahu sebagai kendaraan utam mereka dan melihat juga aktifitas-aktifitas mereka di sungai seperti mengangkap ikan, mencari udang dengan pukat, cari kayu dll. Tapi karena saking lamanya kami jadi bosen juga.

Perjalanan 1 jam akhirnya membuahkan hasil juga, di depan sudah terpampang muara Cikaso yang begitu indah, hamparan padang pasir di tepian sungai, gumuk-gumuk pasir seperti gurun pasir, dan delta sungai dengan endapan pasir besinya yang kehitaman. Kami disambut oleh dua bocah yang berendang menghampiri perahu kami, muka-muka polos anak ini mengingatkan aku akan tayangan jejak petualang di tv, dimana Riyani sering banget bercengkerama dengan mereka.

Turun dari perahu kami langsung melintasi delta, menuju ke puncak gumuk dan melihat deburan ombak di muara, melihat warna air yang bergradasi dari muara, mulanya kerung, lalu bening, menorehkan sketsa abstrak di ombak-ombak yang menggempur pantai. Dari atas bukit sejauh mata memandang hanyalah pantai dan laut, bahkan sampai ujung pantai tidak terlihat lagi. Sungguh mempesona dan sulit terlukiskan dengan kata-kata saja, sungguh agung ciptaan Tuhan. Karena saking panasnya, kami tidak bisa berlama-lama disana, kami harus kembali ke Cikaso lagi. Perjalanan pulang bayak yang tertidur karena lelah.

Jam 1.30 siang, kami sampai di Cikaso dan langsung kembali ke Ujung Genteng, tapi karena laper, kami mampir dulu makan di Surade. Kaget setelah tahu harga makannya, amkan ber-13 Cuma 89rb. Sehabis makan, kami ke Pasar Surade beli buah dan alasan utamanya adalah Muslim pengen beli K****s, ha ha ha. . . . Setelah pasar, kami langsung kembali ke Cottage lagi, Shalat Ashar lalu kembali ke pantai, mandi di pantai sambil menantikan sunset. Sore itu pantai lagi lagi surut, saking surutnya kami sampai bisa berjalan-jalan jauh dari bibir pantai, melihat satwa-satwa laut di bawah kaki, mulai dari ikan-ikan hias nan cantik, terumbu karang, kepiting laut, dan yang paling banyak ular laut . ., jadi takut juga aku, makanya langsung ke bibir pantai lagi dan berjaln-jalan di pasir, sampai jauh ke ujung dan menemukan laguna yang cukup teanang untuk berenang. Berenang disana cukup asik, dengan air yang jernih, jauh dari ombak, dan yang pasti bebas ancaman ubur-ubur. Setelah renang kembali berpose yang aneh-aneh, kemudian balik lagi ke cottage dan mandi. Karena kamar mandi Cuma satu, jadi harus antri deh, setelah mandi kami langsung duduk-duduk di saung di tepi pantai, menikmati sunset dan ngobrol kesana kemari. Sunset sore ini tak secerah sore kemarin, apalagi di sebelah utara sudah turun hujan yang berwarna ungu kebiruan karena sorot mentari senja.

Setelah senja kami makan malam lagi di Hexa, dengan seafoodnya yang uenak banget . ., kali ini presented by Ms. Eva, makasih mbak ya . . . .

07.30 malam, Packing dan angkot jemputan sudah datang, kami langsung naik dan berangkat ke surade. Ditenggah perjalanan hujan cukup deras mengguyur, awalnya biasa saja, tapi setelah tahu kalo ternyata wiper mobil ternyata tidak ada, kami agak shock, dan terus berdoa agar selamat sampai Surade. Setelah sampai Surade kami langsung naik MGI yang telah kami pesen menuju Bogor. Hujan masih terus turun, jam 09.00 malam bus langsung menuju ke Bogor, meski susah banget untuk tidur, aku paksakan untuk memejamkan mata, tapi kadang kasihan juga ama orang-orang yang kebagian tempat duduk sampai harus lesehan di lantai. Jam 03.00 Pagi sampailah di Terminal Baranang Siang, Bogor. Sambil menunggu pagi, kami minum-minum kopi dulu trus nongkrong lagi di depan pos polisi.

Jam 04.30, aku, muslim, agus dan mas khanif berangkat ke Stasiun bogor naik angkot. Sampai disana Shalat Subuh dulu trus melaju menuju Jakarta.

Minggu, 9 Maret 2008 jam 06.05 Pagi, sampailah di Jakarta, dan hidup kembali berjalan dengan rime semula . . .

I’ld like Thanks to:

1.      Allah SWT, yang telah memberikan waktu dan kesempatan untuk dapat melihat Ciptaanmu yang LUAR BIASA …

2.      My parents, thanks for ur spirit

3.      Mbak Novi, Mbak Eva, Mas Khanif, Agus, Muslim, Rotua, dan Nisa, Thanks a lot palls

4.      Mbak Maya dan Suami, makasih dan mau join ama kami

5.      Awak bus MGI, makasih banget atas infonya dan semua bantuannya

6.      Mama’s Losmen Thanks for the nice cottage

7.      Hexa Restaurant makanannya enak bo . . .

8.      Semua pihak yang gak bisa disebutin satu per satu


 

 

 

 

 

 

 

6 komentar: